Jumat, 30 Maret 2012

30 Maret...

Deru..biarlah berhambur menjadi petakan2 kebisingan yg hilang menjadi senyap.
Kebisingan..
Orasi2 keras..
Kecaman..
Aparat..
Kau,,
Dia...
juga Mereka...!!

Biarlah kuBeri sejumput keheningan pada tubuh kerontang negeri  ini..
setelah kulit dan belulang menggerutu dan lengan berurat yg menua.
beri keheningan..biar jd sunyi...sunyi.. akh.. biarlah sunyi

Dia menangis..
Menjumpai kau dengan kulit lebam..
dengan butir keringatmu yang berbaur oleh debu halus jalanan.
juga butiran lembut peluru yang kau simpan rapat2 pada paha kananmu..
ingin teriak..
tersedu...
"jangan jadi penakut, nak...!", pesannya petang itu


Dia merapatkan kel0pak mata dgn irama lembut..
menjumpai kepingan asa yg trbilang lamban terwujud..
akh. Beri kesenyapan pada bait puisiku..biar dia datang dgn kaki berjingkrak pelan,tak bersuara..
BIar dia kembali dengan senyum kepuasan ..
setelah perjuangan siang tadi.

dan kau masih bergulat dengan kebisingan jalan yang lagi-lagi pengap oleh kaki-kaki bersepatu..
oleh intonasi-intonasi yang membelai dinding-dinding megafon..
oleh serdadu-serdadu kejam dengan kumisnya yang menebal..
dengan tubuh tambunnya..
dengan gas air matanya...
biar semua berbaur oleh tangis negeriku yang tak berkesudahan.
Biar semua pecah..tanpa terhelakkan...

Makassar, Siang itu...

Senin, 19 Maret 2012

WAKTU PERTUMBUHAN GIGI GELIGI......

Terbentuknya benih gigi pada janin seperti halnya organ tubuh lain telah dimulai sejak usia kandungan 4-5 bulan. Setelah bayi lahir, erupsi atau pertumbuhan gigi susu yang pertama terjadi pada usia 6-8 bulan. Gigi susu anak anda adalah penuntun jalan bagi gigi tetap yang kuat dan sehat. Sangat penting untuk diketahui bahwa waktu pertumbuhan gigi susu tersebut dapat bervariasi dari tiap anak.

Gigi susu pertama yang tumbuh biasanya adalah dua gigi seri bawah, kemudian diikuti dengan keempat gigi seri atas. Sisa dari gigi susu akan tumbuh secara berurutan biasanya sepasang dari kedua belah sisi dari gigi seri lateral bawah, geraham susu pertama, gigi taring dan geraham susu kedua. Pertumbuhan gigi susu tersebut lengkap mencapai jumlah 20 gigi pada usia sekitar 2 ½ sampai 3 tahun. Gigi yang terakhir tumbuh adalah gigi geraham susu atas kedua.

artnov2

Apabila si anak sudah berusia lebih dari setahun tapi belum juga terjadi erupsi gigi, maka perlu diketahui penyebabnya bila belum sama sekali tumbuh giginya.
Beberapa tanda-tanda pada anak pada saat giginya tumbuh yang dapat terjadi, antara lain sebagai berikut:
• Gatal pada gusi
• Mengunyah atau menggigit benda keras
• Rewel, gelisah, sulit tidur
• Pipi bersemu merah
• Gusi tampak kemerahan
• Tidak nafsu makan
• Demam ringan

Gigi Tetap
Sekitar umur 6 tahun, gigi geraham tetap pertama mulai tumbuh atau erupsi pada rahang atas dan bawah. Gigi tetap tersebut tidak menggantikan gigi susu manapun dan letaknya dibelakang gigi geraham susu kedua. Jadi sekitar umur 6 sampai 12 tahun anak-anak mempunyai gigi geligi campuran antara gigi susu dan gigi tetap. Setelah mencapai umur 12 tahun kebanyakan dari anak-anak telah mempunyai semua gigi tetapnya, kecuali untuk gigi geraham bungsu.

artnov3

Hal-hal penting yang perlu diketahui:

Kebiasaan merawat gigi dengan baik harus ditanamkan sedini mungkin. Dengan demikian gigi tetap sehat sekaligus meletakkan dasar yang baik untuk gigi permanen.
Gigi susu yang berlubang harus segera ditambal dan dipelihara sampai waktu yang tepat untuk tanggal.
Walaupun gigi susu hanya berada sementara di dalam mulut anak anda, tetapi sangat berguna untuk mengunyah, berlatih berbicara, dan untuk bersosialisasi dengan teman.
Gigi susu juga berperan untuk menjaga tempat supaya gigi tetap dapat tumbuh pada posisi yang tetap, dengan demikian penting untuk menjaga gigi geraham susu kedua sampai waktu yang tetap untuk tanggal atau copot. Untuk menjaga gigi geraham tetap pertama bergeser menempati ruang gigi geraham susu kedua yang nantinya akan menyebabkan salah satu penyebab gigi tetap menjadi berantakan.
Sangat penting untuk memperhatikan perawatan gigi anak anda. Sebaiknya anda memeriksakan gigi anak anda secara teratur untuk memastikan kesehatan dan kebenaran posisinya.

Sabtu, 03 Maret 2012

ISLAM ALTERNATIF, Jalaludin Rakhmat

Title: Islam Alternatif

Writer:Jalaludin Rakhmat
Publisher: Mizan
Edition: 1991
Pages: 296
Dimension: 21 x 14,5x 1cm
Cover:Paperback
Language: Indonesia
Category: For Sale/Rent
Price: Rp. 75.000,-
Call No.: 130/Rak/i/C.1
Status: Ada/Available

***
Islam, sebagai agama, sudah tentu bersifat pribadi dan ritual. Tapi, berbeda dengan yang lainnya, ia juga bersifat sosial dan intelektual. Dibanding yang disebut terdahulu, dua aspek yang disebut kemudian terasa sempat kehilangan penekanan pada beberapa abad belakangan dalam sejarah perkembangannya. Padahal, dalam bentuk asalnya, justru sebaliknyalah yang terjadi--agama ini lebih bersifat sosial dan intelektual ketimbang bersifat pribadi dan ritual.

Islam alternatif berupaya menampilkan kembali kedua sisi Islam tersebut di tengah-tengah keasyikan ritual para penganutnya, sekaligus menyodorkannya sebagai alternatif bagi sistem-sistem atau konsepsi-konsepsi kehidupan "sekular" zaman ini. Lebih dari itu, kumpulan ceramah di kampus ini juga memuat--dalam semangat wahdah Islamiah--studi pintas atas mahzab syiah, yang dilakukan oleh penulisnya.

"betapa banyak umat islam disibukkan dengan ritual ibadah mahdhah, tetapi mereka mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan dan kesulitan hidup yang diderita saudara2 mereka. Betapa banyak orang kaya islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu di gerogoti penyakit dan kekurangan gizi. Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara2 keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah, jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. jutaan uang dipakai untuk naik haji dan umrah berulangkali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak sanggup membayar biaya rumah sakit
......Secara ekstrinsik mereka beragama tetapi secara intrinsik mereka tidak beragama...........

openboooks: ISLAM ALTERNATIF, Jalaludin Rakhmat

openboooks: ISLAM ALTERNATIF, Jalaludin Rakhmat: Title: Islam Alternatif Writer: Jalaludin Rakhmat Publisher: Mizan Edition: 1991 Pages: 296 Dimension: 21 x 14,5x 1cm Cover: Paperback ...

Selasa, 28 Februari 2012

Sunni dan Syiah

Sunni dan Syiah adalah dua mainstream Islam yang sama-sama post-quranic. Keduanya terbentuk setelah wahyu berhenti diturunkan dan setelah nabi Muhammad saw wafat. Perselisihan paham antarkeduanya berlangsung sejak terbentuknya aliran tersebut di masa-masa awal Islam sampai hari ini. Keduanya saling perang ayat dan riwayat, bahkan tidak jarang keduanya saling mengafirkan. Kontestasi perebutan pengaruh juga berlangsung dari dulu hingga sekarang dan kontak fisik sering tidak terhindarkan. Begitu parahkah perbedaan antarkeduanya sehingga tak ada secercah harapan mendekatkan kedua kekuatan dahsyat Islam ini?

Hasil diskusi intensif penulis (bersama dengan beberapa doktor dan guru besar UIN Alauddin) dengan beberapa Ayatullah (ulama otoritatif) Syiah di Hawza Ilmiah Syiah di jantung peradaban Syiah di Qum, Iran, mengungkap sejumlah fakta menarik yang dipatut dipertimbangkan dalam rangka mendekatkan kedua mainstream besar Islam ini.

Sejumlah isu-isu kritis kami diskusikan secara akademik dan kepala dingin. Kami ke Iran mengikuti workshop ilmiah dengan membawa sejumlah pemahaman apriori tentang Syiah. Di antaranya adalah asumsi bahwa kitab suci Syiah (Alquran) berbeda dengan kitab suci (Alruran) Sunni. Asumsi ini bukan tanpa dasar karena disebutkan dalam ratusan riwayat dalam kitab al-Kafi karya al-Kulayni (salah satu dari empat kitab yang dianggap oleh Syiah sebagai kitab suci kedua setelah Alquran, kurang lebih sama dengan Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang diyakini oleh Sunni sebagai kitab kedua setelah Alquran) bahwa terdapat manipulasi atau perubahan (tahrif) terhadap Alquran yang ada sekarang.

Menurut al-Kulayni penulis kitab otoritatif tersebut, Alquran yang ada di tangan kaum muslimin Sunni sekarang sebagian telah diubah. Inilah salah satu penyebab mengapa kaum muslimin Sunni di dunia termasuk di Indonesia, memandang Syiah sesat karena meyakini ketidakaslian Alquran.

Begitu kami sampai di Iran kami langsung memeriksa Alquran Syiah. Bahkan kami dibawa ke tempat percetakan Alquran dan diberi hadiah Alquran. Ternyata, Alquran Syiah dengan Alquran Sunni tidak ada bedanya sama sekali. Ketika penulis menanyakan hal ini kepada salah seorang Ayatullah di Hawza, beliaupun menjawab tak ada perbedaan. Yang menarik adalah informasi dari kitab al-Kafi berbeda dengan kenyataan di lapangan. Ketika kami menanyakan hal tersebut, Ayatullah menjawab kami tidak menganggap al-Kafi sebagai kitab suci yang tidak mungkin salah. Di situ banyak kesalahan yang kami kritisi, berbeda dengan kalian di Sunni yang menjadikan Sahih al-Bukhari sebagai kitab suci yang tidak boleh dikritisi. Saya sempat sedikit tersindir dengan jawaban tersebut.

Menurut Ayatullah yang lain, sudah terbit banyak buku yang mengkritik al-Kafi karya al-Kulayni. Poin ini penting karena kitab ini sering dijadikan sumber oleh Sunni untuk menyerang kaum Syiah, sementara kitab ini sendiri sudah dikritik oleh Syiah.






Poin selanjutnya tentang sahabat. Dalam literatur-literatur yang ditulis kaum Sunni disampaikan bahwa Syiah hanya menerima hadis-hadis yang diriwayatkan oleh ahlul bait atau keluarga nabi, sementara hadis yang diriwatkan oleh sahabat-sahabat yang lain mereka tolak mentah-mentah, bahkan mereka, kaum Syiah mencerca sahabat. Para Ayatullah yang sempat kami ajak diskusi mengingkari hal itu. Mereka mengatakan bahwa sepanjang hadis tersebut bisa dibuktikan otentisitasnya dari nabi, siapapun sahabat yang meriwayatkan kami terima. Abu Bakar, Umar dan Usman adalah sahabat nabi yang mereka hormati. Poin ini sangat substantif karena pendapat tentang sahabat nabi telah dan sedang menjadi sumber konflik antara keduamainstream Islam ini.






Bahkan, ada di antara Ayatullah yang menjelaskan bahwa sedang ada konspirasi besar untuk mendiskreditkan Iran (Syiah) yang bertujuan untuk memecah-belah umat Islam. Iran adalah negara Islam terbesar dan terkuat, baik secara ekonomi, karakter, budaya dan politik dan paling resisten terhadap pengaruh hegemoni Barat yang sama sekali tidak bisa didikte oleh Amerika. Terdapat tidak kurang dari 200 chanel televisi di luar negri, terutama di Amerika, yang dibuat dalam bahasa Parsi untuk mendiskreditkan Iran, untuk menyerang budayanya. Stasiun televisi inilah yang sering memunculkan padangan-pandangan miring yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap Iran secara khusus dan Syiah secara umum, agar Syiah dan saudaranya Sunni tidak bisa bersatu menurut Ayatullah tersebut.






Tentang nikah mut'a (kawin kontrak), sungguh berbeda dengan apa yang kami pahami sebelumnya. Nikah mut'a memang dibenarkan oleh ulama Syiah dengan riwayat-riwayat yang menurut mereka dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Bahkan argumentasi quranipun dapat mereka tunjukkan. Menurut mereka, nikah mut'a dipraktikkan pada masa nabi. Banyak sahabat yang telah mempraktikkannya. Nanti pada masa Umar bin Khattab, khalifah kedua, Nikah mut'a dilarang. Mengapa sesuatu di masa nabi dibolehkan kemudian dilarang oleh Umar? Riwayat-riwayat tersebut tentu bisa diperdebatkan, tetapi bukan tempatnya di sini mendiskusikannya. Tetapi, meskipun demikian nikah mut'a di kalangan Syiah tidak semudah dan semurah yang dibayangkan.






Nikah mut'a memang masih ada di Iran, tetapi sangat terbatas. Di samping harus tercatat di catatan sipil, juga bukanlah trend terhormat di masyarakat. Praktik nikah mut'a sangat jarang dan hanya dalam kasus tertentu. Di tempat lain, praktik nikah mut'a sering dieksploitasi dan dijadikan sebagai instrumen mengumbar nafsu. Nikah mut'a tentu tidak dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tersebut.






Perbedaan yang paling mendasar yang diakui oleh mereka adalah tentang khilafah. Mereka meyakini bahwa yang berhak menjadi khalifah setelah nabi adalah Ali, bukan Abu Bakar, Umar dan Usman. Keyakinan tersebut tentu di-back up oleh riwayat-riwayat yang mereka yakini kesahihannya. Konsep imamah dan wilayatul faqih adalah tema yang juga menarik dan sangat panas dalam diskusi kami, tetapi keterbatasan halaman ini menyebabkan penulis tidak mengurainya di sini.






Poin yang penulis ingin sampaikan adalah baik Sunni maupun Syiah memiliki argumennya masing-masing, memiliki dasar-dasar dari Alquran dan hadis masing-masing. Sunni dan Syiah berbeda dalam memahami teks, berbeda dalam menilai keabsahan sumber atau riwayat-riwayat. Tetapi, ketika Sunni dan Syiah mengakui tuhan yang sama, nabi yang sama, Alquran yang sama, kiblat yang sama, syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan. Apatah lagi kalau perbedaan-perbedaan itu dipahami dari sumber yang tidak tepat.






Bagi Sunni yang ingin mengetahui substansi pemikiran dan hakikat ajaran Syiah sebaiknya membaca dari literatur Syiah, bukan dari sumber yang tidak suka kepada Syiah. Begitu pula sebaliknya, kelompok Syiah harus fair membaca literatur otoritatif Sunni untuk mengetahui esensi pemahaman Sunni. Mungkin dengan cara itu, Sunni dan Syiah dapat bersinergi membangun peradaban Islam di masa yang akan dating/ Amien. Wallahu a'lam. (*)






Dok/FajarKamaruddin Amin


Oleh: Kamaruddin Amin (Guru Besar Ilmu Hadis UIN Alauddin)
Islam Mosque