Kamis, 01 November 2012

Peribahasa Uang....





Berikut ini 38 peribahasa tentang uang :
  1. Satu sen yang ditabung adalah satu sen yang diperoleh. -Benjamin Franklin 
  2. Banyak murid telah mendapatkan kekayaan lebih dari tuannya. -Yunani 
  3. Jika seseorang mempunyai seratus dolar dan menghasilkan satu juta dolar, maka hal tersebut sangat luar biasa; Tetapi jika seseorang mempunyai seratus juta dolar dan menghasilkan satu juta dolar, maka hal tersebut tidak bisa terhindarkan. -Amerika 
  4. Misers mengumpulkan kekayaan bagi mereka yang ingin mereka mati. -Polandia 
  5. Jika Anda ingin menipu orang yang kaya dan kuat, Anda jangan menghina mereka. -Jepang 
  6. Dia yang meminjam maka dia akan mengalami penderitaan. -Turki 
  7. Ketika emas berbicara, setiap lidah akan diam. -Italia 
  8. Orang yang menabung maka orang tersebut akan menjadi orang yang bebas.-Cina 
  9. Ketika uang berbicara, kebenaran akan diam. -Rusia 
  10. Uang milik masyarakat seperti air suci, maka semua orang membantu dirinya sendiri untuk mendapatkannya. -Italia 
  11. Uang menyebabkan bajingan menjadi diakui. -Yiddi 
  12. Uang adalah uang, darimanapun itu berasal. -Perancis 
  13. Jika Anda memiliki uang, Anda memiliki kebijaksanaan; jika tidak, maka Anda bodoh. -Turki 
  14. Dia yang meminjam akan mengalami penderitaan. -Turki 
  15. Jika kemanapun Anda pergi Anda erat dengan uang, maka Anda akan disambut dengan kehidupan yang tidak cerah.-Cina 
  16. Siapa yang membayar utang-utangnya akan menjadi kaya. -Perancis 
  17. Makan dan minum dengan teman-teman Anda tetapi tidak melakukan perdagangan dengan mereka. -Turki 
  18. Di bawah kapitalisme, manusia mengeksploitasi manusia; Di bawah sosialisme, keadaan yang terjadi adalah yang sebaliknya. -Polandia 
  19. Kegagalan datang untuk memenangkan uang. -Cina 
  20. Kekhawatiran tentang uang bukan luka yang fana. -Perancis 
  21. Ketika Anda miskin, tetangga tidak akan datang, setelah Anda menjadi kaya, Anda akan terkejut dengan kunjungan dari kerabat jauh. -Cina 
  22. Mendapatkan uang seperti menggali menggunakan jarum. Pengeluaran itu seperti air yang cepat meresap ke dalam pasir. -Jepang 
  23. Bila Anda hanya memiliki dua sen yang tersisa di dunia, maka Anda beli sepotong roti dengan satu sennya dan bunga lili dengan satu sen lainnya. -Cina 
  24. Jika uang kecil tidak dikeluarkan, maka uang besar tidak akan masuk. -Cina 
  25. Memiliki satu sen seperti memiliki uang yang banyak jika Anda tidak memiliki uang sepeser pun. -Yiddi 
  26. Sulit untuk menjadi kaya tanpa menyombongkan diri seperti sulitnya menjadi miskin tanpa mengeluh. -Cina 
  27. Mereka yang menghina uang akhirnya akan mengemis kepada teman-teman mereka. -Cina 
  28. Hati yang bahagia lebih baik daripada sebuah tas yang penuh dengan uang. -Italia 
  29. Setelah orang kaya menjadi kaya, ambisi berikutnya adalah menjadi lebih kaya. -Amerika 
  30. Tidak ada jumlah uang yang dapat membuat orang lain memuji Anda di belakang Anda. -Cina 
  31. Uang tidak dapat membeli keinginan hati. -Cina 
  32. Ketika keberuntungan Anda meningkat, kolom rumah Anda menjadi bengkok. -Armenia 
  33. Bukan uang jika tidak memberikan kebahagiaan walaupun dalam jumlah uang yang banyak. -Rusia 
  34. Menginginkan sesuatu dalam waktu yang cukup lama maka Anda tidak bisa mendapatkannya. -Cina 
  35. Ucapan bodoh dari orang kaya akan menjadi ucapan yang bijaksana. -Spanyol 
  36. Jika Anda memiliki uang, Anda dapat menciptakan hantu dan setan kembali ke gerinda. -Cina 
  37. Jalan terpendek menuju kekayaan terletak pada penghinaan kekayaan. -Seneca 
  38. Dengan uang di saku Anda, Anda menjadi bijak, tampan, dan bernyanyi dengan baik. -Yiddi 

Jumat, 19 Oktober 2012

SiBeYe....

Sudah Seperempat abad,, kita menapak tanpa alas..
Dengan nafsu birahi yang terputus-putus
dan bauan tubuh gaib-Mu yang usai ku setubuhi dengan nafas yang terengah.

Kau masih terlentang dengan dada kembang kempis..
seakan bernyanyi tentang isyarat lampu merah yang tak usai meski malam beranjak lepas.
sementara Ribuan mata memicing tak henti-henti..
tak ubahnya lampu teflon yang menerangi sepertiga ruangan..
Kita masih terjaga.. sayang.

Bukankah kita sudah bersetubuh dalam ruang-ruang khayal yang lega tanpa batas..
Dan kau lalu bunting dengan sebuah bait yang padat.. teramat padat.
lewat  binar matamu yang bergaris hitam-putih itulah,, Ku temui si SBY dengan dada berbulunya tengah tertelap dengan air liur yang meleleh banyak.. hahaha.. Dasar si Yudoyono.

Dan petang ini..
Kau enggan melepas penggalan birahimu sekalipun hanya sebaris kalimat.
Katamu,, biar kusimpan rapat-rapat pada selimut bulu domba si bapak negara  di ranah kita petang ini.

Kau menyeruput kopi
tanpa ampas..
tanpa kepulan asap rokok..
Lalu menepuk debu halus yang menggerogoti peci usang kita.

Akh.. sayang...
Tanganmu setengah terkepaL..
menatap nanar pada tiang-tiang bendera yang meliuk tak beraturan.
sementara Si presiden sudah sedikit terlelap..
Meninggalkan liur pada kain merah bendera yang luput belum terjahit.

Minggu, 16 September 2012

Keindahan dan Keangungan Perempuan

Dewasa ini perempuan kerap dinilai secara fisik-material, dan banyak melupakan aspek terdalamnya (aspek spiritual). Perempuan menjadi korban era materialistik, hedonistik, sekularistik, dan individualistic. Materiastik karena yang dilihat adalah tubuh bukan kepribadian. Hedonistik karena ingin kesenangan sementara. Sekularistik karena tidak lagi peduli lagi pada moral nilai yang didengungkan oleh semua agama. Individualitsik karena mereka tidak peduli bagaimana dampak dari kenekatan mereka berbugil mereka terhadap keluarga dan masyarakat yang dekat dengannya. Pandangan ini tentu reduktif dan dalam beberapa hal mendegradasikan peranan dan identitas perempuan, yang dampaknya menghadirkan seabrek problem yang mendera perempuan, mulai dari masalah hak, peranan dan statusnya, hingga menjadi obyek eksploitasi pasar. 

Di lain sisi, menarik untuk disebutkan, dalam Islam dua perwujudan utama Tuhan adalah Jalal (keagungan) dan Jamal (keindahan). Pada manusia, perwujudan Jalal termanifestasi pada laki-laki sedangkan perwujudan Jamal termanifestasi pada perempuan. Karena itu tak heran bila perempuan sering disebut sebagai simbol keindahan, bahkan sejatinya lebih tinggi lagi, perempuan merupakan simbol keindahan Tuhan (Jamal). Tidak cukup sampai di situ, sejatinya perempuan juga menampilkan keagungan (Jalal) sebagaimana halnya laki-laki juga menampilkan keindahan meski dalam taraf yang berbeda. 

Buku "Keindahan dan Keagungan Perempuan" menghadirkan sisi keindahan dan keagungan pada perempuan. Dalam pengertian bahwa sejatinya dalam pengertian yang paling esensial, perempuan—tidak terkecuali laki-laki—menempati tempat yang tinggi. Penulis buku ini, yang merupakan seorang filsuf, berhasil menyajikan penjelasan-penjelasan terkait perempuan yang bagi banyak orang boleh jadi menimbulkan rasa heran akibat terbukanya tirai tentang hakikat perempuan yang sebenarnya. Banyak pandangan diskriminatif dan miring tentang perempuan ditepis dengan jawaban filsofis dalam buku ini

Minggu, 12 Agustus 2012

Sekilas perjalanan hidup....

Kehidupan yang tidak direnungkan adalah hidup yang tidak dapat dijalani,kira kira demikianlah sebuah titah seorang bijak. Kehidupan adalah rangkaian proses dan dinamika demi pencapaian tujuan. Kehidupan ini sendiri adalah segala hal yang ada. Apapun yang kita asumsikan sebagai keberadaan itulah kehidupan. Kehidupan adalah ada itu sendiri. Sedangkan pada kenyataannya hidup ini berhirarkis. Kita mengenal benda benda sampai pada makhuk dengan derajat tertinggi yang kita sebut manusia. Idealitas penciptaan manusia adalah sebagai khalifah bagi alam semesta. Alam semesta tentu bukan hanya bumi tapi juga dalam seluruh tingkatannya. Secara sederhana kehidupan ini berhirarki. Yang paling tinggi kita kenal yang maha hidup itu sendiri sampai yang paling rendah,saking rendahnya kita sebut ia benda mati. Benda mati hanya kita kenal dalam pelajaran biologi waktu SD dulu. Jika anda masih mempercayainya saya mengira pengetahuan anda belum terupdate dengan baik. Kembalilah ke jalan yang lurus. 

Lebih jauh tentang kehidupan dan keberadaan, dalam dunia filsafat ada dua perdebatan besar tentang hal ini yakni eksistensialisme dan esensialisme. Karena keterbatasan pengetahuan seorang penumpang di mobil fanter tiada duanya ini tidak mampu mengurainya dan sebagai pembenaran tulisan ini juga tdk dimaksudkan sebagai sebagai tulisan teori filsafat secara akademis. Tulisan ini dimaksudkan pertama,sebagai latihan tulis menulis ditengah tuntutan untuk menulis semakin meninggi. Kedua, sebagai upaya untuk mengabadikan kebodohan.Tentu dengan harapan, apa yang aku tulis yang sejatinya hanya untuk konsumsi pribadi, ini akan menjadi landasan selanjutnya untuk menapaki hijab-hijab makrifat. Ketiga, pengisi waktu seorang musafir dalam perjalanan mks-plp dalam sebuah bus yg sedang melaju dengan dentuman musik yg bisa merobek jantung hidupku. Menikam & menghidupkanku berkali- kali. Walau dengan melodi disko menghentak yang sekiranya volume ditambah satu strip lagi saya yakin bukan hanya memecahkan kaca mobil bus tiada duanya ini tapi juga gendang telingaku. Intinya pelarian dari musik yang punya niat baik tp dengan tindakan kurang manusiawi. 

Lagi kembali pada hidup dan keberadaan. Saya mengira hidupku akan normal kembali setelah mobil ini sampai pada tujuanku. Setidaknya ada beberapa hal yang mesti jadi renungan hidup manusia. Pertama, asal muasal keberadaan manusia. Bagi banyak sebagian orang tentu saja pertanyaan ini sangat sederhana dan kerap kali dengan karakter jawaban yang aksiomatik. Tanpa pertimbangan & tanpa hara huru definisi apalagi argumentasi. Penyebabnya bisa beragam namun kita bagi saja menjadi dua yakni struktural dan kultural. (pembagian ini semau-mau gue aja, mana ada otak normal jika berpergian dengan angkutan umum, mesti persiapkan dua nyawa satu untuk cadangan satu untuk kau ikhlaskan saja)

Pertama,struktural. Menurut anda apa yang membuat negeri kita ini yang telah memproklamirkan diri telah bebas dari penjajah sejak tahun 45 masih terseok-seok dalam segala hal. Sejak reformasi kita telah mendendankan kepiluan bahwa kita mengalami krisis multi dimensional. Disuarakan mulai dari parlement hingga jalanan,oleh kiyai hingga politisi (masih ingat tentang hirarki kehidupan?). Saya yakin politisi (tentu saja sebagian saja) menempati hirarki terendah dalam proses penciptaan. Walaupun aristoteles telah mengumumkan bahwa politik adalah ilmu tertinggi yang mengakumulasi seluruh pengetahuan manusia karena berbicara tentang masyarakat (semoga benar). Tapi tentu saja yang mulia aristoteles bicara dalam bentuk/makna politik sabagaimana politik. Bukan politik dalam kacamata kuda para penyembah kekuasaan atau dalam anggapan para pengusaha kaki tangan negara negara imperialisme. [Oh perutku mulai demonstrasi...dan bus tiada duanya ini masih melaju menerobos perbatasan barru-pare2. Perbatasan yang memiliki dimensi lain dan menjadi korban retorika pembangunan sejak jalan mengenal kata rayaaaa.] Esokx,secara hegemonik struktur negara bekerja melalui seluruh instrument yang dia miliki termasuk mendehumanisasi wacana. 

belum sempat dilanjut, mata sudah 5 watt pemirsa... see on next trip

Senin, 11 Juni 2012

HMI CANDRADIMUKA

Judul : HMI Candradimuka
Penulis : Solichin

Buku ini menuturkan pengalaman seorang kader HMI yang sangat layak untuk menyampaikan pengalaman seperti itu. Sebab, sdr. Solichin adalah mantan Wakil Ketua PB HMI yang telah memberikan dedikasinya dan tekun melaksanakan tugasnya. Buku ini tidak hanya menyampaikan fakta tetapi juga apa yang dirasakan penulisnya, bahkan interpretasinya terhadap suatu fakta, sehingga memberikan gambaran yang lengkap tentang HMI. Mengapa (misalya) HMI dapat eksis menghadapi pergolakan politik yang ganas menjelang G30S/PKI ? Sdr. Solichin, setidaknya telah mencoba untuk menawab pertanyan yang selama ini menjadi teka-teki sejarah.

Mungkin tidak diperkirakan oleh pendiri HMI sendiri, bahwa apa yang diniatkan mereka ketika mendirikan HMI ditahin 1947, bahwa HMI dapat member sumbangan yang besar pada tanah airnya, berupa kader – kader umat dan bangsa yang bertebaran di berbagai lembaga Negara, partai politik dan organisasi kemasyarakatan. Meskipun masih harus terus – menerus memelihara identitasnya, harapan Jendral sudirman bahwa HMI adalah “(H)arapan (M)asyarakat (I)ndonesia” sedikit banyak telah terpenuhi dan masih sangat relevan di masa mendatang.

Hal ini membuktikan, bahwa pemikiran atau idea atau gagassan atau konsep yang melandasi pendirian HMI merupakan jawaban terhadap harapan Masyarakat Indonesia. HMI hadir, dengan demikian hadir sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia. Eksistensinya dijamin oleh masyarakat itu sendiri. Hal inilah yang selayaknya harus disadari oleh setiap anggota dan kader HMI, di tengah warna- warni perbedaan yang ada di tengah masyarakat. HMI, akan menjadi perekat yang mendekatkan berbagai warna –warni perbedaan itu. Selama HMI memegang teguh landasan pemikiran seperti itu, HMI Insya Allah akan tetap eksis dan berkembang.

Buku ini berjudul “HMI, CANDRADIMUKA MAHASISWA”. Kesimpulan seperti itu, sudah tentu berdasar pengalaman penulisnya. HMI bukan tempatnya bermanja-manja, tetapi “wadahnya” mahasiswa mempersiapkan masa depannya, masa penggodogan diri atau masa penggemblengan diri sebagai kader umat dan kader bangsa. Prasyarat seperti itu dimiliki HMI, karena HMI adalah organisasi mahasiswa yang mewadahi calon cendekiawan dan insane akademis, yang merupakan kelompok elit pemikir bangsa. Kalau benar mereka itu mengalami kawah “Candradimuka”, pengodogan/ Penggemblengan diri seperti itu, maka (insya Allah) yang lahir adalah kader umat dan Bangsa yang handal. Benarkah demikian? Apa indikasinya? Dan apa yang melandasi semua itu?

Buat apa HMI didirikan ?

Tidak berlebihan, setiap organisasi, selayaknya memiliki dasar dan tujuan yang melandasi berdirinya organisasi itu. HMI didirikan oleh mahasiswa dari kalangan perguruan tinggi Islam yaitu Sekolah Tinggi Islam (STI), yang merasa perlu memiliki keseimbangan di dalam mengabdikan dirinya, dengan memperdalam ke-Islamannya. Wajar, oleh karena pendidikan tinggi di waktu itu masih terbatas pada pendidikan umum. Belum ada (misalnya) IAIN (Institut Agama Islam Negeri).

Meskipun demikian, perumusan tujuan dan sifat organisasi mahasiswa Islam, masih sangat relevan dengan perkembangan zaman. Hal ini setidaknya mengindikasikan, sebuah pemikiran yang mendalam dari para pendiri HMI. Bahwa HMI akan selalu berada di tengah-tengah Masyarakatnya, masyarakat Islam dan Indonesia. Karena itu, pemikiran dasar berdirinya HMI selayaknya harus selalu menjadi rujukan setiap aktivis / kader ataupun pengurus HMI di segala tingkat kepengurusan di dalam mengemudikan roda organisasi.

Dasar-dasar pemikiran itu, antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :

1.Bahwa HMI adalah organisasi kader umat dan bangsa. Dikatakan sebagai organisasi kader, oleh karena keanggotaan HMI adalah sepanjang menjadi Mahasiswa, sehingga ada batasan ruang dan waktu. Sebagai mahasiswa, merupakan kelompok elit masyarakat Indonesia yang memperoleh kesempatan pendidikan tinggi, sehingga terbuka peluang melahirkan pemimpin bangsa dan umat. Kesempatan menjadi anggota HMI sebaiknya digunakan untuk membuka peluang seperti itu, sehingga HMI adalah “Candradimuka” mahasiswa Indonesia., tempat menggodok para pemimpin bangsa dan umat. Pengabdian yang sesungguhnya dari seorang anggota HMI adalah ketika usai menyelesaikan studinya di pendidikan tinggi dengan baik, sehingga menjadi modal yang sangat berharga di kemudian hari, justru ketika sudah menjadi alumni HMI.

2.Sebagai organisasi kader, maka HMI harus bersifat mandiri, independen, di tengah pluralism umat dan kebhinekaan bangsa. Hal ini diperlukan, untuk dapat menjadi perekat kebhinekaan kebebasan berpikir untuk menjadi formula yang terbaik di segala bidang, yang bermanfaat bagi seluruh masyarkat. Independensi juga diperlukan untuk menjaga kejernihan berpikir, sehingga objektifitasnya terjaga.

3.Mecita-citakan persatuan umat dan kesatuan bangsa. Sebagai kader umat dan bangsa, HMI harus selalu bisa menempatkan diri sebagai pemersatu umat dan sekaligus ikut membangun kesatuan bangsa. Hal ini diyakini, bahwa kesatuan bangsa hanya dapat dicapai apabila ada persatuan umat, sebagai mayoritas penduduk Indonesia. Karena itu, sebelum bisa berperan seperti itu, HMI harus mampu menjaga persatuan dan kesatuan organisasinya sendiri.

4.HMI adalah organisasi yang bersifat non- praktis politik. Sifatnya ini perlu ditegaskan, bahwa HMI tidak boleh dan tidak akan pernah menjadi onderbouw suatu kekuatan politik. Termasuk partai politik Islam. Sebagai kader umat dan bangsa, dalam wawasan HMI, tidak boleh ada dikotomi antara wawasan keislaman dan kebangsaan.

5.Bahwa dengan pemikiran seperti itu, harus ada kualitas yang lebih dimiliki oleh HMI. Kualitas itu adalah menonjolnya sifat sebagai organisasi mahasiswa dan Islam. Kegiatan studi, sebagai cirri mahasiswa, harus tetap dipelihara, demikian juga sifat sebagai organisasi islam. Keseimbangan ini diperlukan untuk tetap mempertahankan cirri khas HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam.

Dasar-dasar pemikiran seperti itu dilihat dari buku ini yang berjudul “HMI, Candradimuka Mahasiswa”. Tidak mudah, bagi setiap kader HMI untuk dapat meneliti perjalanan seperti itu. Kemampuan menahan diri, tidak terombang – ambing oleh kondisi/lingkungan social sangat diperlukan. Sebab, tarikan ke kanan atau ke kiri, khususnya berdasarkan kepentingan politik selalu hadir. Sepanjang HMI tetap melandasi kegiatannya pada pemikiran diatas, insya Allah HMI akan tetap eksis dan berkembang di masa depan.

Dengan membaca buku ini, sepotong sejarah HMI, yang dialami oleh penulisnya, setidaknya bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi setiap kader HMI, bagaimana mengimplementasikan pemikiran/landasan buat apa HMI didirikan di tengah pergolakan yang dialami bangsa ini.

Buku ini, insya Allah juga akan melengkapi buku-buku yang lain tentang HMI, yang ternyata banyak menarik perhatian termasuk di kalang Akademisi, sehingga sejarah HMI banyak menjadi bahan skripsi ataupun thesis, disertasi untuk gelar kesarjanaan. Hal ini mengindikasikan, bahwa HMI tidak hanya merupakan organisasi perjuangan, tetapi juga layak sebagai baha studi di perguruan tinggi, bahkan di luar negeri sekalipun. Di satu pihak merupakan tantangan bagi kader HMI untuk tetap melaksanakan cita-cita buat apa HMI didirikan, di pihak lain juga merupakan sebuah kebanggan bagi setiap anggota HMI. Selamat membaca.
Islam Mosque